Sabtu, 15 Oktober 2016

kepo

hari ini penyakit kepo itu kumat lagi. kepo pada seseorang yang dikagumi itu memang suatu pekerjaan yang tak pernah membosankan. hari ini aku lihat lagi album-album fotomu, betapa banyak foto-foto masa lalumu yang membuatku tertawa. Gaya-gaya masa remaja menuju dewasa yang  diekspresikan dengan leluasa. Sungguh banyak lucu. Dan itu tak mengurangi rasa kagumku padamu, meski gayamu begitu. Karena semua orang punya masa lalu. Sungguh aku sangat ingin membahas foto-foto lucumu itu, bersamamu,  berdua saja, hingga kita bisa tertawa berdua, bersama-sama, menertawakan foto itu. Ah akankah itu terjadi. Akankah inginku ini bisa terpenuhi. Tapi terimakasih untuk hari ini, untuk foto itu, walaupun aku melihatnya secara diam-diam, sendirian, dan ternyata tertawa sendirian itu tidak lebih baik dari tertawa dengan orang yang ditertawakan. 
Tuhan maafkan kekepoanku hari ini. Hati ini hanya belum bisa menjauh pergi. Masih ingin menanam harapan, yang entah sampai kapan akan aku simpan.

Kamis, 13 Oktober 2016

Sisa

Menyusuri jejak yang tersisa...
Mengenang yang sudah jauh disana...
Sedang saat bersama aku tak  kuasa...
Karena takut menimbulkan cemburu sang Maha Esa...
#kemarensore #mengenangkemaren #harusnyadituliskemaren #kemaren12oktober

Rabu, 12 Oktober 2016

Pertemuan yang terlewatkan

Banyak sekali moment pertemuan yang aku lewatkan, yang seandainya diusahakan mungkin akan menjadi suatu kenangan. Tapi aku terlalu penakut. Aku takut jika kita punya banyak kenangan bersama akan semakin sulit untuk aku melupa. Aku takut Tuhanku cemburu. Aku takut dan takut. Meski itu ku inginkan, tapi tak mau ku paksakan. Akhirnya pertemuan yang singkat antara kita itu sudah cukup bagiku, karena aku percaya itulah pertemuan yang Tuhan izinkan. Seandainya aku frontal, bisa saja banyak moment yang akan dilewatkan bersama. Tapi itulah, aku hanya seorang penakut.

Selasa, 11 Oktober 2016

Benci ?

Di dunia ini aku tak ingin membenci. Meski ku akui hati ini tak seutuhnya suci. Makanya ketika ada hal-hal yang mengarah pada sesuatu yang membuatku bisa kesal, marah, sedih itu sebisa mungkin ku hindari. Lebih baik aku yang menarik diri, menjauh pergi. Daripada aku mendengaf, membaca, atau mendapatkan kata-kata yang membuatku terluka, membuatku   berduka, lebih baik aku yang pergi. Karena memberikan penjelasan pada orang yang tak mau mengerti adalah perbuatan yang sia-sia. Ketika aku dikatakan benci dengan orang lain, itu juga sungguh menyakitkan, betapa diriku selalu ingin menjaga hati agar tetap stabil. Setiap keadaan yang dialami tentu tak semua orang bisa memahami. Aku tak memaksa dan tak jua berharap diterima segala apa yang ku lakukan. Aku tak jauh-jauh dari salah dan khilaf jua. Tapi setiap tindakan yang aku lakukan tentu berdasarkan alasan yang itu tak perlu ku jelaskan pada semua orang, tak perlu aku membuat pengumuman. Akupun tak sempurna. Aku mudah terluka. Makanya aku lebih senang menarik diri, membungkam kata dari keriuhan yang ada. Terserah orang mau bilang apa. Aku hanya ingin bahagia....

Pengakuan

Hari ini nemu foto dengan qoute yang kusukai di instagram... Tentang pengakuan perasaan. Banyak orang yang tak berani menyatakan perasaannya, padahal dia tak tau kalau sebenarnya orang yang disukainya pun mempunyai perasaan yang sama, bahkan mungkin lebih besar, hanya saja tak ada yang berani mengungkapkannya. Ah makanya tak usah takut, ungkapkan saja jika memang sudah siap. Tapi jangan juga asal ungkapin, apalagi sama orang yang baru dikenal, bisa-bisa malah bikin illfeel. Masa baru kenal udah bilang suka, yang ada malah dikira orang yang gampangan suka sama orang lain, cuma asal-asalan saja, untung-untungan atau bisa juga hanya untuk sementara. Rasa suka, cinta dan sejenisnya yang sudah diungkapkan mesti-mestinya memang betul-betul matang. Sudah bisa menerima dan memahami keadaannya baik dari atas maupun bawah, dari dalam keluar, dari kiri ke kanan. Artinya tak hanya sekedar suka dari pandangan mata dan terkaan rasa. Lalu bak pujangga mengirimkan rentetan kata yang tak bermakna karena cuma copy paste belaka.

Minggu, 09 Oktober 2016

Mimpi

Kini hanyalah mimpi menatap dirimu kembali disini bersamaku lagi.... Merauke, Masjid Al-Aqsha..

Kamu lagi dan kamu lagi

Kamu, iya kamu... saat melintasi mesjid raya itu, aku ingat kamu. Aku ingat betapa bahagianya bisa melihatmu lagi walaupun nampak belakangnya saja, walaupun kamu tak melihatku. Kamu, mengapa begitu betah masih membayangi hari-hariku. Sebetulnya bukan salahmu, tapi salahku, yang tak bisa melepaskanmu, dari pikiranku. Kamu, seandainya kau tahu akankah ada sikap yang berbeda darimu ? Atau jangan-jangan sebenarnya kau sudah tahu tentang perasaanku ? Hingga kamu hanya ingin menjaga, tanpa ingin berkata, tanpa ingin mencoba memperjelas semuanya karena memang belum waktunya.